
Sejarah peradaban Islam sering kali terjebak dalam simplifikasi kronologis yang ahistoris. Dalam narasi arus utama, pembebasan Baitulmaqdis (Yerusalem) kerap dianggap sebagai keberhasilan mendadak pada era Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, atau buah dari kejeniusan militer Salahuddin Al-Ayyubi berabad-abad setelahnya. Namun, sebuah hipotesis akademis yang tajam dari Dr. Abdullah Ma’ruf membongkar miskonsepsi tersebut.
Pembebasan Baitulmaqdis sejatinya bukan sebuah kebetulan sejarah, melainkan sebuah ‘grand design’ (cetak biru) strategis yang telah dirancang, dipersiapkan, dan diinstitusikan langsung oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ sejak fajar kenabian menyingsing di Makkah.
Tulisan ini lahir saat kami baru selesai mengisi Seminar Baitul Maqdis dengan tema: “Menyiapkan Generasi Pembebas Baitul Maqdis dan Masiid Al-Aqsa dari Rumah dan Sekolah” yang dihelat pada 11 Juli 2026 dan dihadiri para guru dan kepala sekolah sebagai rangkaian kegiatan Pra-Muktamar V Wahdah Islamiyah.
Fase 1: Fondasi Spiritual dan Geopolitik: Era Makkah hingga Isra’ Mi’raj
Perencanaan strategis pembebasan Baitulmaqdis tidak dimulai dengan mobilisasi pedang, melainkan dengan penataan visi global dan orientasi ruang dalam kesadaran umat.
1. Pendidikan Visi Global melalui Kiblat Pertama
Sejak awal masa dakwah di Makkah, Rasulullah ﷺ mengarahkan kaum Muslimin untuk mendirikan salat menghadap Baitulmaqdis. Secara sosiologis, langkah ini merupakan bentuk revolusi kesadaran. Nabi ﷺ sedang memutus keterikatan bangsa Arab terhadap chauvinisme lokal (kesukuan yang sempit) dan menggantinya dengan visi peradaban yang universal.
Baitulmaqdis ditetapkan sebagai kiblat pertama bukan sekadar aturan ibadah teknis, melainkan proses pendidikan ilahiah (tarbiyah rabbaniyah) agar umat Islam menyadari bahwa misi risalah ini melampaui batas geografis Jazirah Arab.
2. Peristiwa Isra’ Mi’raj: Estafet Kepemimpinan Kemanusiaan
Nazar geopolitik Islam atas Baitulmaqdis dikukuhkan secara absolut melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Masjidil Aqsa dipilih Allah SWT sebagai titik temu para pemimpin kemanusiaan universal, yaitu para nabi dan rasul.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ mengimami salat para nabi di Masjidil Aqsa, secara teologis terjadi penyerahan estafet imamah (kepemimpinan) risalah dunia dari para nabi terdahulu kepada beliau. Peristiwa ini mentransformasikan Baitulmaqdis menjadi pusat strategis relasi Islam dengan kemanusiaan global.
3. Edukasi Geo-Strategis melalui Nubuwwah Al-Qur’an
Allah SWT mendidik nalar geopolitik umat awal melalui penurunan ayat-ayat Al-Qur’an, salah satunya pada awal Surah Ar-Rum. Melalui ayat ini, Al-Qur’an menyoroti jatuhnya Baitulmaqdis dari tangan Romawi ke tangan Persia sebagai tanda penting. Umat Islam diajarkan untuk memandang wilayah tersebut sebagai episentrum sejarah dunia, melatih mereka menjadi subjek pembaca dinamika global sejak dini.
Fase 2: Konsolidasi Kedaulatan dan Hukum: Era Madinah
Pasca-hijrah dan terbentuknya entitas politik di Madinah, Rasulullah ﷺ mulai menurunkan visi spiritual Baitulmaqdis ke dalam instrumen kedaulatan politik dan hukum yang konkret. Langkah berikut ini memperkuat tesis tersebut:
1. Penetapan Arah Kiblat (Fase Transisi)
Setelah sekitar 16 bulan di Madinah, arah kiblat dialihkan ke Ka’bah di Makkah. Secara simbolis, jika Ka’bah (Makkah) merepresentasikan hubungan vertikal dengan Allah (aspek Jalal/Keagungan) dan Madinah merepresentasikan proteksi dan hubungan dengan Rasulullahﷺ,maka Baitulmaqdis tetap diposisikan sebagai jangkar horizontal yang menghubungkan umat Islam dengan kemanusiaan universal. Hubungan triadik (Makkah-Madinah-Baitulmaqdis) inilah yang menjadi pilar peradaban Islam.
2. Instrumen Hukum Iqtha’ (Pemberian Hak Lahan)
Salah satu bukti empiris paling kuat dari perencanaan awal ini adalah praktik iqtha’ (pemberian hak kepemilikan tanah) yang dilakukan oleh Nabiﷺ kepada sahabat Tamim ad-Dari dan Abu Tsa’labah al-Khusyaini. Beliau memberikan sertifikat kepemilikan tanah di wilayah Syam/Palestina (khususnya Hebron), padahal secara de facto wilayah tersebut masih dikuasai sepenuhnya oleh Kekaisaran Romawi.
Secara hukum internasional dan syariat Islam, ini adalah bentuk ‘imposing authority’ (penegasan otoritas mendahului penguasaan fisik). Nabi ﷺ menegaskan bahwa secara spiritual dan hukum, tanah suci tersebut sudah berada di bawah naungan kedaulatan Islam.
Fase 3: Ekspansi Militer dan Infrastruktur Jalur Logistik Perang Pembebasan
Setelah stabilitas domestik Madinah tercapai dan ancaman kaum Quraisy diredam melalui Perjanjian Hudaibiyah, Nabi ﷺ secara sistematis mengalihkan kompas militernya ke arah barat laut: menuju pintu gerbang Baitulmaqdis.
[MADINAH] —> [KHAYBAR] —> [TABUK (20 Pos/Masjid)] —> [BALQA’ (Yordania)] —> [BAITULMAQDIS]
1. Diplomasi Langsung ke Pusat Target
Dimensi strategis lainnya terlihat pada pengiriman surat dakwah dan kedaulatan kepada Kaisar Heraklius pada tahun ke-6 Hijriah. Menariknya, Heraklius adalah satu-satunya penguasa adidaya yang menerima surat tersebut langsung di luar ibu kotanya, yakni saat ia berada di Baitulmaqdis. Fakta bahwa perhatian Nabi ﷺ tertuju langsung pada momentum keberadaan Heraklius di Baitulmaqdis menunjukkan bahwa wilayah ini adalah episentrum dari visi global dakwah beliau.
2. Perang Mu’tah: Kontak dan Uji Coba Militer Pertama
Perang Mu’tah bukan sekadar respons atas pembunuhan utusan diplomasi dari Supreme Leader Madinah (Nabi Muhammad), melainkan kontak militer perdana yang disengaja untuk menguji kekuatan Kekaisaran Romawi yang baru saja menang atas Persia.
Dalam ekspedisi ini, Nabi ﷺ menerapkan strategi manajemen kepemimpinan kolektif yang jenius dengan menunjuk tiga komandan secara berurutan: Zaid bin Haritsah (mewakili Muhajirin), Ja’far bin Abi Thalib (mewakili Ahlul Bait), dan Abdullah bin Rawahah (mewakili Anshar). Penggabungan ini berfungsi mengikat emosional dan loyalitas seluruh elemen inti masyarakat Islam terhadap pembebasan wilayah utara. Ketika pasukan kembali, Nabi ﷺ menolak sebutan ‘farrar’ (orang yang lari dari perang) dan menegaskan bahwa mereka adalah ‘karrar’ (orang yang mundur untuk menyusun strategi dan akan kembali).
3. Ekspedisi Tabuk: Puncak Kesiapan Logistik dan Geopolitik
Ekspedisi Tabuk sejauh 700 kilometer merupakan puncak dari persiapan militer Nabawi. Di sini, perhatian Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin yang bertindak bagai “ayah bagi umatnya” terlihat sangat detail. Beliau menguji dan memastikan kesiapan logistik, sumber air, serta daya tahan pasukan dalam skala operasi jangka panjang.
Selama 20 hari perjalanan menuju utara, Nabi ﷺ berhenti setiap hari dan membangun satu masjid di setiap titik persinggahan—total 20 masjid. Ini adalah pembangunan infrastruktur rute militer dan logistik yang matang. Setiap masjid berfungsi sebagai pos pertahanan, titik konsolidasi, dan marka rute permanen menuju Baitulmaqdis di masa depan.
Di Tabuk pula, Nabi ﷺ memperluas kedaulatan diplomatik dengan membuat perjanjian keamanan dengan kabilah-kabilah lokal di sekitar Syam, seperti penduduk Adzruh. Perjanjian ini mengamankan jalur pergerakan pasukan Muslim dari gangguan proksi Romawi di kemudian hari.
Analisis Peradaban: Karakteristik Pembebasan Baitulmaqdis
Dari cetak biru yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ, kita dapat menyimpulkan empat saripati analisis peradaban mengenai esensi pembebasan Baitulmaqdis:
- Baitulmaqdis adalah Indikator Martabat Umat: Sejarah membuktikan bahwa kondisi Baitulmaqdis berbanding lurus dengan kondisi iman dan persatuan umat Islam. Ketika umat kehilangan kesadaran akan nilai tempat ini, mereka berada di pinggiran sejarah (margin of history).
- Titik Awal (Starting Point), Bukan Titik Akhir: Berbeda dengan persepsi umum yang menganggap pembebasan Baitulmaqdis sebagai akhir dari target perjuangan, dalam model Nabawi, pembebasan tanah suci ini justru merupakan langkah awal (titik tolak) untuk menyebarkan keadilan dan memosisikan Islam sebagai pemegang supremasi peradaban di panggung dunia.
- Kerja Kolektif Umat, Bukan Mesias Tunggal: Strategi Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa pembebasan Baitulmaqdis tidak diserahkan pada keajaiban sosok tunggal yang “sakti”, melainkan dibangun di atas keringat, darah, sistem logistik, hukum, diplomasi, dan kesadaran kolektif umat yang terorganisasi dengan rapi.
- Pernyataan Tauhid dan Kesetaraan Universal: Ketika Khalifah Umar akhirnya membebaskan Baitulmaqdis secara fisik, peristiwa kumandang azan pertama oleh Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu (seorang mantan budak Afrika) di tanah para nabi tersebut menjadi deklarasi simbolis yang dahsyat: bahwa kedaulatan baru di tanah suci ini tegak di atas pondasi Tauhid yang menghapuskan segala bentuk kasta, rasisme, dan hegemoni eksploitatif antarmanusia.
Kesimpulan
Cetak biru yang diletakkan oleh Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan bahwa pembebasan sebuah peradaban menuntut integrasi total antara kesucian spiritual dan kematangan kalkulasi strategis. Umat Islam hari ini tidak akan pernah bisa mengubah realitas di Baitulmaqdis jika hanya menjadi penonton pasif. Mengikuti sunah Nabawi berarti bertransisi dari penonton di pinggiran sejarah menjadi subjek pembentuk sejarah (maker of history) melalui perencanaan yang terukur, kolektif, dan bervisi global.
Untuk tujuan mulia itu, maka sudah saatnya Indonesia negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar dunia, menjadi center of exlelence dan episentrum persiapan ilmu pengetahuan dan persiapan diplomasi internasional yang mewakili dunia Islam di papan catur geopolitik dunia baru yang menggantikan tatanan dunia lama.
Peran ulama, dai, ormas Islam dan lembaga pendidikan Ialam sangat strategis untuk menghidupkan kembali budaya dan pengetahuan Baitul Maqdis di tengah dinamika dunia yang terus bergolak menuju titik didih dan eskalasi global akibat jebakan Thuicydides. Para dai, pendidik dan penggerak harus tetap fokus menurunkan cetak biru Nubuwwah ke dalam langkah nyata perencanaan strategis pembebasan Baitul Maqdis, terutama dalam kurikulum pelajaran sejarah di sekolah dan madrasah serta kurikulum siroh nabawiyah di majelis taklim akar rumput.
Makassar, 12 Juli 2026
Oleh KH. Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute dan Ketua Umum FORDAMAI

