Zionis atau Iranis? Netizen, Euforia, dan Amnesia di Tengah Perang Iran vs AS–Israel

Iran vs Israel

Di tengah dentuman rudal antara Iran dan poros AS–Israel, ada satu hal lain yang tak kalah bising: keributan di media sosial. Linimasa dipenuhi dua arus besar yang saling menegasikan. Sebagian memuja Iran sebagai benteng terakhir Islam, sementara yang lain mengecamnya sebagai ancaman bagi dunia Arab dan Islam. Di ruang yang sempit itu, orang dipaksa memilih posisi. Jika Anda bersorak saat Iran menyerang Israel, Anda dicap “Iranis”. Jika Anda mengkritik Iran karena menyerang negara-negara Teluk, Anda dituduh “Zionis”. Pada titik ini, label telah menggantikan nalar.

Gelombang euforia digital itu muncul begitu cepat. Serangan balasan Iran terhadap Israel langsung berubah menjadi konten heroik yang beredar luas. Iran dielu-elukan sebagai pembela Palestina, satu-satunya negara Muslim yang berani, simbol perlawanan terhadap Barat.

Narasi ini tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari akumulasi kekecewaan panjang terhadap kegagalan dunia Arab dalam membela Palestina dan masuk skema perdamaian dengan entitas Zionis pasca perjanjian Camp David tahun 1979, lalu Oslo Accord tahun 1993, dan terakhir Abraham Accord tahun 2020.

Dalam periode sejak Israel berdiri tahun 1948 hingga 1979, yang paling gigih menentang proyek pendudukan zionis adalah dunia Arab (muslim sunni). Dalam rentang itu tak pernah terdengar ada proxi negara atau milisi Syiah di Timur Tengah yang aktif menentang proyek zionisme. Di tahun 1979 terjadi titik balik dalam geopolitik Timur Tengah: saat Mesir berdamai dengan Israel di Camp David, Iran menyaksikan revolusi Khomeini yang beraliran syi’ah dan langsung mendeklarasikan politik anti Amerika-Zionis.

Pelan tapi pasti, meski terhambat akibat perang Iran vs Irak tahun 1980-1988, dunia Arab akhirnya sempurna tunduk kepada hegemoni AS pasca Perang Teluk 1 tahun 1991. Dan puncaknya ketika PLO (Yasser Arafat) disusul Kerajaan Yordania (Raja Husein II) berdamai dengan Israel pada 1993, lalu eskalasi Intifadah 2 Palestina tahun 2000 pasca gagalnya perundingan Camp David tahun 2000 untuk menentukan rumusan final solusi 2 negara.

Rangkaian peristiwa itu berujung pada wafatnya pemimpin-pemimpin perlawanan Palestina secara beruntun: Yasser Arafat (2004), Syekh Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi (2005) hingga Israel mundur dari Jalur Gaza tahun 2005 dan pemilu nasional Palestina digelar tahun 2006.

Satu tahun upaya rekonsiliasi Hamas dan Fatah gagal maka pada tahun 2007 Gaza dan Hamas memasuki era blokade total oleh Israel dan dibalas dengan perlawanan sengit, maka Iran datang menawarkan bantuan kepada Hamas untuk masuk menjadi bagian poros perlawanan proxi Iran di Yaman, Irak, Suriah dan Lebanon. Saat itu dunia Arab sunni tak bisa melakukan apa-apa untuk mendukung perlawanan Hamas. Ketika harapan itu kosong, siapa pun yang tampak konsisten melawan Israel dengan keras, tanpa mau melihat kepentingan nasional Iran dan sektariannya, akan dengan mudah diangkat menjadi simbol perlawanan.

Al-Qur’an telah memberi peringatan yang sangat tegas tentang hal ini. Allah berfirman: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini tidak memberi ruang bagi fanatisme. Bahkan terhadap pihak yang paling kita benci sekalipun, keadilan tetap menjadi kewajiban. Maka membenci penjajahan Israel tidak boleh membuat kita kehilangan kemampuan untuk menilai tindakan pihak lain secara jernih. Kebenaran tidak pernah lahir dari kebencian yang membutakan.

Namun di ruang digital hari ini, yang terjadi justru sebaliknya. Siapa yang bersorak atas serangan Iran dianggap pembela Islam sejati dan dicap syi’ah minimal Iranis. Siapa yang mencoba mengkritik Iran—termasuk ketika konflik meluas ke kawasan lain—langsung dicap sebagai Zionis. Label menggantikan nalar, emosi menggantikan prinsip.

Padahal Islam tidak pernah mengajarkan bahwa tujuan yang benar dapat membenarkan segala cara. Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”

Kezaliman tetaplah kezaliman, siapa pun pelakunya, apa pun benderanya. Ia tidak menjadi halal hanya karena dilakukan atas nama Palestina. Ia tidak berubah menjadi kebaikan hanya karena diarahkan kepada musuh yang kita benci.

Dalam sejarah, Nabi ﷺ justru memberikan teladan yang sangat kontras dengan euforia semacam ini. Pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, keputusan yang diambil tampak merugikan kaum Muslimin secara emosional. Banyak sahabat merasa berat menerimanya. Namun Nabi ﷺ tetap memilih jalan itu karena melihat kemaslahatan jangka panjang yang tidak kasat mata.

Dari sini kita belajar bahwa tidak semua yang tampak heroik adalah benar, dan tidak semua yang tampak lemah adalah salah. Kebenaran dalam Islam tidak diukur dari sorakan massa, tetapi dari kesesuaiannya dengan prinsip.

Realitas konflik hari ini pun jauh dari sederhana. Dalam dinamika kawasan, Iran memiliki jejak panjang keterlibatan di berbagai konflik, termasuk di Suriah melalui dukungannya terhadap rezim Bashar al-Assad, serta pengaruhnya di Irak. Ketegangan dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga bukan hal baru. Dalam konflik terbaru, dampaknya bahkan merembet ke stabilitas kawasan yang dihuni oleh sesama umat Islam.

Namun fakta-fakta ini sering tenggelam. Ia kalah oleh narasi yang lebih sederhana, lebih emosional, dan lebih mudah dibagikan. Selama sebuah pihak membawa bendera Palestina, banyak orang merasa tidak perlu lagi melihat sisi lainnya. Seolah-olah satu sikap benar dapat menghapus seluruh kesalahan lain.

Padahal Islam mengajarkan keseimbangan. Membela yang tertindas adalah kewajiban, tetapi menjaga keadilan adalah fondasinya. Ketika salah satu hilang, yang tersisa bukan lagi perjuangan, melainkan fanatisme.

Pelajaran ini terasa sangat jauh dari cara kita bereaksi hari ini. Di media sosial, yang dihargai adalah yang paling keras, paling tegas, dan paling emosional. Algoritma memperkuat narasi hitam-putih, menghapus nuansa, dan mempercepat polarisasi. Akibatnya, publik seperti mengalami amnesia kolektif. Banyak yang lupa bahwa konflik di kawasan ini memiliki sejarah panjang dan kompleks. Lupa bahwa setiap aktor memiliki sisi yang bisa dikritik. Lupa bahwa dunia tidak pernah sesederhana “baik” dan “jahat”.

Yang paling jarang muncul justru sikap yang paling dibutuhkan: keberanian untuk konsisten. Menolak penjajahan Israel di Palestina sekaligus mengkritik tindakan yang melukai sesama umat di tempat lain. Sikap seperti ini tidak populer karena tidak memberi kepuasan emosional. Ia tidak cocok dengan logika “tim” yang mendominasi media sosial. Namun justru di situlah letak integritas.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang Iran, Israel, atau negara-negara Teluk. Ia adalah tentang bagaimana kita sebagai umat memandang dunia. Apakah kita masih mampu melihat kebenaran tanpa harus terjebak dalam kubu, ataukah kita telah menyerahkan penilaian kita kepada emosi kolektif dan arus informasi?

Sebab jika setiap tragedi hanya kita baca sebagai pertandingan, maka korban—di Gaza, di kota-kota Suriah, di Riyadh, di Doha, di Beirut—akan selalu kalah oleh sorakan penonton. Dan tanpa kita sadari, kita tidak lagi sedang memahami perang. Kita sedang menikmatinya. Na’udzu billah min dzalik.

Penulis Oleh: Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute

Scroll to Top