
Indonesia sedang memasuki babak baru. Setelah lama dianggap “raksasa tidur” dunia Islam, kini Indonesia bangkit sebagai kekuatan yang diperhitungkan di panggung global. Presiden Prabowo Subianto datang dengan visi besar: menjadikan Indonesia pemain utama dalam geopolitik dunia sekaligus suara utama umat Islam, terutama dalam memperjuangkan Palestina merdeka.
Dari Absen Menjadi Aktif
Selama puluhan tahun, Indonesia lebih banyak sibuk dengan persoalan dalam negeri: krisis ekonomi, korupsi, disintegrasi, konflik politik internal. Akibatnya, meski memiliki lebih dari 242 juta Muslim (13% populasi Muslim dunia), Indonesia jarang tampil pada isu besar umat seperti Palestina, Irak, Suriah, Sudan, Libya, Bosnia, Rohingya, Uighur atau Chechnya.
Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia berubah arah. Di markas PBB, jantung diplomasi global, Jakarta vokal membela Palestina. Bantuan besar dikirim ke Gaza. Indonesia konsisten menolak normalisasi dengan Israel, berbeda dengan sebagian negara Arab yang masuk ‘perangkap’ Abraham Accord 2020. Kini, di bawah Prabowo, arah itu diperkuat: Indonesia tidak hanya bicara, tapi siap mengambil tindakan nyata.
Visi Asta Cita: Fondasi Kekuatan
Prabowo menawarkan visi pembangunan Asta Cita: kedaulatan pangan, energi, kesehatan, pendidikan, pertahanan, pemerataan pembangunan, reformasi birokrasi, dan kepemimpinan global.
Agenda domestik ini sesungguhnya pondasi menuju kepemimpinan global. Negara yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri akan lebih dihormati. Dengan pertahanan yang kuat, energi yang cukup, dan ekonomi yang besar, Indonesia mantap menapaki papan catur dunia dengan daya tawar tinggi.
Indonesia dalam Papan Catur Dunia
Indonesia kini pemain penting. PDB lebih dari US$1,46 triliun, anggota G20 dan BRICS, militer peringkat 13 dunia, ekonomi ke-7 terbesar dunia pada 2030, serta produsen nikel terbesar dunia. Posisi geografinya pun strategis: Selat Malaka, jalur perdagangan paling sibuk di dunia, ada di wilayahnya.
Tidak heran jika tiga kekuatan besar dunia berebut mendekat: China, dengan investasi lebih dari US$20 miliar lewat Belt and Road, dan menguasai lebih dari 40% produksi nikel Indonesia. AS lewat latihan militer Super Garuda Shield 2025 bersama 12 negara, serta kesepakatan ekonomi bernilai miliaran dolar. Rusia memperkuat kerja sama militer dan energi sejak Indonesia masuk BRICS pada 2025.
Di tengah perebutan ini, Indonesia memainkan politik “seribu teman, tanpa musuh”. Jakarta menolak memilih satu kubu, justru memanfaatkan semuanya untuk kepentingan nasional.
Pilar Kekuatan Indonesia
Ada beberapa pilar yang bisa dimanfaatkan Prabowo agar Indonesia naik kelas di panggung dunia:
- Demografi Muslim Terbesar – 242 juta Muslim (13% populasi dunia) = legitimasi moral untuk bicara isu Palestina.
- Ekonomi Besar – PDB > US$1,46 triliun, anggota G20 & BRICS = daya tawar di perdagangan dan investasi global.
- Sumber Daya Strategis – Produsen nikel terbesar dunia: nikel dan baterai EV jadi “emas baru” dunia.
- Posisi Geostrategis – Selat Malaka sebagai kunci jalur dagang internasional.
- Militer Modern – Peringkat 13 dunia, modernisasi alutsista: daya tawar lewat diplomasi pertahanan.
- Politik Seribu Teman Tanpa Musuh – fleksibilitas dan keuntungan ganda menghadapi AS, China, Rusia.
- Konsistensi Isu Palestina – reputasi sebagai pembela hak rakyat Palestina.
- Soft Power Islam Moderat – citra sebagai wajah Islam yang damai, demokratis, dan pluralis.
Ujian Pertama: Palestina
Isu Palestina adalah ujian nyata kepemimpinan global Indonesia. Dunia sedang menunggu apakah Indonesia berani tampil lebih tegas memperjuangkan Palestina sebagai negara merdeka dengan kedaulatan penuh, bukan sekadar simbolis seperti yang didorong Barat.
Prabowo sudah memberi sinyal kuat. Indonesia siap mengirim hingga 20.000 pasukan penjaga perdamaian ke Gaza, jika diberi mandat internasional. Selain itu, Indonesia bisa memanfaatkan kekuatan ekonominya: misalnya mengaitkan kontrak dagang nikel dengan dukungan politik untuk Palestina, atau memimpin koalisi maritim untuk memastikan bantuan kemanusiaan masuk Gaza.
Jika langkah-langkah ini dilakukan, Indonesia bukan hanya sekadar pembela Palestina di forum internasional, tetapi juga aktor nyata di lapangan.
Dari Kartu Truf ke Penentu Aturan Main
Kini pertanyaannya: apakah Indonesia hanya akan menjadi “kartu truf” yang diperebutkan AS, China, dan Rusia? Atau berani jadi pemain independen yang menulis aturan mainnya sendiri?
Prabowo tampaknya memilih jalan kedua. Dengan Asta Cita, diplomasi seribu teman tanpa musuh, dan konsistensi membela Palestina, Indonesia punya modal besar untuk naik kelas menjadi kekuatan global.
Jika berhasil, Indonesia bukan hanya bangkit sebagai raksasa ekonomi dan militer, melainkan juga sebagai suara utama umat Islam di dunia internasional. Suara yang bukan hanya bicara tentang keadilan, tetapi menegakkannya di panggung global.
Penutup
Seperempat abad lalu, Indonesia nyaris runtuh akibat krisis. Hari ini, ia berdiri di pusat gravitasi percaturan global. Prabowo Subianto membawa visi agar Indonesia tidak hanya bangkit untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, sebagaimana mandat konstitusi RI. Dan panggung pertama tempat peran itu akan diuji adalah Palestina.
Jika Indonesia berhasil ikut menentukan lahirnya negara Palestina Merdeka dan berdaulat, maka dunia akan mencatat: kebangkitan Indonesia adalah kebangkitan yang membawa harapan bagi umat manusia.
Jakarta, 27 September 2025
Penulis
Oleh: Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute – Majelis Tabligh PP Muhammadiyah



