Abu Ubaidah: Sampai di Titik Kesaksian

Dalam sejarah umat, ada manusia-manusia yang kehadirannya tidak banyak bicara tentang dirinya, tetapi banyak berbicara tentang zamannya. Mereka tidak mengejar pengakuan, tetapi justru menjadi penanda arah. Abu Ubaidah yang bernama asli Hudzaifah Samir Al-Kahlut adalah salah satu dari sedikit manusia seperti itu.

Ketika kabar kesyahidannya diumumkan—bahwa ia gugur pada 30 Agustus 2025—dunia tidak terdiam. Justru sebaliknya, dunia sedang bergerak. Jalan-jalan kota besar dipenuhi jutaan manusia yang membawa satu suara: Palestina. Tekanan masyarakat internasional terhadap Israel mencapai puncak yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Dalam konteks itulah Abu Ubaidah wafat. Dan karena itu pula, banyak yang meyakini bahwa ia tidak “pergi”, melainkan sampai—sampai pada maqam kesaksian yang selama ini ia jalani dengan sunyi dan konsistensi.

Ikon Tanpa Wajah, Perjuangan Tanpa Pamrih

Selama bertahun-tahun, dunia mengenal Abu Ubaidah tanpa mengetahui nama aslinya. Ia hadir sebagai suara yang tenang namun menghunjam, sebagai sosok yang tertutup wajahnya tetapi terbuka maknanya. Penutup wajahnya bukan sekadar strategi keamanan, melainkan simbol etika perjuangan: bahwa yang utama bukan siapa yang berbicara, tetapi apa yang dibela.

Dalam dunia yang dipenuhi kultus individu dan pencitraan politik, Abu Ubaidah justru menjadi ikon karena menolak kultus itu sendiri. Ia menjadi simbol perlawanan Arab–Islam, namanya disebut oleh pemimpin negara, gambarnya dikenang oleh generasi muda dunia seperti Che Guevara, bukan karena ia mencari ketenaran, tetapi karena ia jujur pada penderitaan rakyatnya.

Perlawanan, baginya, bukan romantisme kosong. Ia adalah akad: jual-beli dengan Allah dan baiat dengan rakyat. Ia adalah kesiapan untuk kehilangan segalanya demi menjaga satu hal—martabat.

Pejuang yang Berakar pada Ilmu

Yang menjadikan Abu Ubaidah berbeda dari banyak figur perlawanan lain adalah kedalaman fondasi intelektualnya. Ia bukan hanya komandan medan tempur, tetapi penuntut ilmu yang serius. Pada tahun 2013, ia menulis tesis di Universitas Islam Gaza tentang Tanah Suci Baitul Maqdis dalam Perspektif Islam, Yahudi, dan Kristen.

Pilihan tema ini bukan kebetulan. Abu Ubaidah memahami bahwa konflik Palestina bukan sekadar konflik senjata, melainkan konflik akidah, narasi, dan legitimasi sejarah. Ia meneliti bagaimana kesucian Tanah Suci dipahami dalam tiga agama, bagaimana klaim-klaim teologis digunakan untuk membenarkan penjajahan, dan bagaimana Islam memandang Baitul Maqdis sebagai amanah akidah dan wakaf umat.

Dari sinilah lahir satu pelajaran penting: jihad fisik tanpa pijakan ilmu adalah kebutaan, dan ilmu tanpa keberanian berkorban adalah kepengecutan. Abu Ubaidah memadukan keduanya. Ia menulis, lalu bertarung. Ia memahami, lalu mempertaruhkan nyawanya.

Tidak Ada Permintaan Maaf kepada Penjajahan

Dalam masa hidup dan wafatnya, muncul suara-suara yang menuntut agar perlawanan “meminta maaf” kepada rakyat Palestina. Narasi ini bukan sekadar keliru, tetapi terbalik secara moral. Abu Ubaidah—dan mereka yang berjalan bersamanya—tidak pernah mengkhianati rakyatnya. Mereka gugur bersama rakyat, lapar bersama rakyat, dan diserang bersama rakyat.

Jika dunia terguncang, jika Israel terpojok secara moral, jika wajah kolonialisme modern tersingkap, itu bukan karena diplomasi palsu, melainkan karena harga mahal yang dibayar oleh para syuhada. Menyalahkan perlawanan atas kejahatan penjajah adalah bentuk lain dari kekerasan: kekerasan narasi.

Syahid dan Keberkahan Sejarah

Kesyahidannya memiliki makna yang melampaui waktu. Ia wafat ketika dunia sedang mendengar Palestina. Ketika suara Gaza menembus ruang-ruang yang selama ini tertutup. Dalam tradisi iman, syahid bukan hanya akhir kehidupan biologis, tetapi awal kehidupan makna. Darah syuhada sering kali menjadi bahasa terakhir yang mampu menembus kebisuan dunia.

Abu Ubaidah tidak meninggalkan kekayaan, tidak mewariskan jabatan, tetapi meninggalkan standar moral: bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang paling siap menderita, bukan yang paling pandai berbicara; bahwa perjuangan sejati tidak memerlukan legitimasi penjajah; dan bahwa kemenangan sejati tidak selalu berbentuk wilayah, tetapi kesadaran umat.

Amanah bagi Generasi

Abu Ubaidah kini menjadi bagian dari sejarah. Namun sejarah bukan untuk ditangisi, melainkan untuk dipikul. Namanya telah diangkat, tetapi tanggung jawabnya kini berpindah kepada umat yang hidup setelahnya.

Ia telah menunjukkan bahwa jalan kemuliaan selalu mahal, bahwa ilmu dan jihad tidak boleh dipisahkan, dan bahwa keberanian yang tidak berpihak kepada rakyat hanyalah kesombongan bersenjata.

Semoga Allah menerima kesyahidannya, meninggikan derajatnya, dan menjadikan hidup serta wafatnya cahaya bagi generasi yang mencari arah. Dan semoga kita tidak berhenti pada kekaguman, tetapi melanjutkan kesaksian yang telah ia tunaikan.

Abu Ubaidah telah sampai.
Kini pertanyaannya tinggal satu:
apakah kita akan menyusul dengan kesetiaan, atau tertinggal dengan alasan?

Kami di Al-Fahmu Institute yang concern pada literasi dan kekuatan narasi seputar Baitul Maqdis baik akidah, geopolitik dan hubungan internasional untuk mengadvokasi isu Palestina dan Masjid Al-Aqsa memilih untuk setia melanjutkan arah perjuangannya dengan menerbitkan buku berjudul: Tanah Suci Baitul Maqdis dalam Perspektif Yudaisme, Kekristenan dan Islam dalam edisi bahasa Indonesia. Mohon doa sahabat semua.

Penulis oleh Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute

Scroll to Top