
Dua tahun telah berlalu sejak serangan besar yang dikenal sebagai Taufanul Aqsa pecah pada 7 Oktober 2023. Badai perlawanan bersenjata yang menusuk pertahanan entitas zionis Israel dan mempermalukan wajah buruk mereka di mata dunia. Badai perlawanan para pejuang kemerdekaan Palestina yang dinantikan sejak 108 tahun silam saat Deklarasi Balfour yang zalim diluncurkan. Badai perlawanan yang membangkitkan narasi keadilan di tengah konspirasi Abraham Accord untuk mengubur mimpi Palestina merdeka.
Sejak itu, dunia menyaksikan babak paling getir dan horor dalam sejarah panjang Palestina—pembantaian, pengungsian, dan derita kemanusiaan yang tiada henti. Namun jelang genap 2 tahun, pada September 2025, sesuatu yang baru terjadi: jutaan hati manusia di seluruh belahan bumi bangkit, bersatu menyuarakan satu kata: keadilan untuk Gaza.
Di Berlin, Roma, London, Paris, New York, Seoul, Den Haag, Frankfurt, Brussel, Norwegia, kota Sydney dan Melbourne, sebelumnya Jakarta dan ‘planet’ Bekasi, suara-suara itu menggema serentak. Bukan lagi hanya teriakan politik atau jargon perlawanan, melainkan seruan nurani: “Suara Gaza adalah suara kemanusiaan.” Ia melampaui sekedar tuntutan pengakuan negara Palestina merdeka.
Suara Gaza: Suara Kemanusiaan
Gema solidaritas yang terdengar di jalan-jalan kota besar dunia pada September 2025 adalah bukti bahwa Gaza bukan sekadar isu regional. Gaza telah menjadi simbol universal tentang penderitaan, keberanian, dan keteguhan hati “Sumud” rakyat Palestina yang tak sudi menyerah kepada penindasan.
Ketika anak-anak Gaza kehilangan rumah dan sekolahnya, bahkan kaki dan kepalanya lepas dari tubuh mungil sebagian mereka, ketika perempuan dan ibu menyusui menjadi korban bombardir, ketika para pemimpin perlawanan gugur syahid, ketika mayat-mayat terlempar ke udara akibat ledakan dahsyat bom, maka setiap hati nurani di dunia pun terusik. Gaza adalah kita.
Doa untuk Para Syuhada Gaza
Refleksi dua tahun Taufanul Aqsa juga menjadi momen tepat mendoakan para syuhada Gaza. Mereka yang gugur—baik pejuang di garis depan, para pemimpin seperti Ismail Haniyeh, Yahya Sinwar, Saleh al-Arouri, Muhammad Deif, maupun rakyat jelata yang syahid bersama anak dan keluarganya—telah menulis bab kepahlawanan di lembaran sejarah umat manusia. Khusus Yahya Sinwar, sang arsitek Taufan Aqsa, kita sampaikan kepada dunia: dia bukanlah teroris durjana seperti digambarkan Netanyahu, dia adalah pahlawan yang mewakili hati nurani dunia yang cinta kebenaran, kemerdekaan dan keadilan universal. Kata-kata yang ia ucapkan pada 2022 bertuah dan terwujud hari ini: entitas zionis Israel terisolasi di depan sorotan mata dan hati dunia yang bangkit membela Palestina.
Semoga Allah merahmati mereka, meneguhkan keluarga yang ditinggalkan, dan melapangkan jalan perjuangan yang mereka titipkan.
Suara Gaza: Kebangkitan Nurani Dunia
Tak dapat dipungkiri, Gaza telah menjadi cermin global. Dari tragedinya, dunia belajar bahwa kemanusiaan tak boleh tunduk pada sistem global yang zalim. Dari heroismenya, dunia tersadar bahwa keberanian bisa melampaui ketakutan. Dan saatnya mengubah dan menentukan kebijakan politik yang berpihak pada kebenaran dan keadilan universal.
September 2025 menandai kebangkitan nurani dunia: orang-orang yang sebelumnya diam kini bersuara meski terlambat, masyarakat lintas agama dan bangsa bersatu, dan solidaritas menjelma gerakan moral yang menggelinding dan menembus batas-batas politik dan geografis.
Gaza adalah Kita
Jika kemanusiaan dibiarkan mati di Gaza, maka kemanusiaan kita semua akan hancur.
Jika Gaza kehilangan hak dasarnya, maka hak setiap manusia di bumi pun terancam dilindas oleh sistem dajjal yang bermaskas di Washington dan Tel Aviv.
Karena itu, seruan yang menggema dari jalanan dunia pada September 2025 menjadi pengingat bagi kita semua: Gaza adalah kita. Dan kita semua adalah Gaza.
✍ Jakarta, 29 September 2025
Oleh Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institut – Majelis Tabligh PP Muhammadiyah



